Selasa, 04 Oktober 2016

Mahasiswi Akhir yang Akhirnya Berlibur (Part Akhir dari Jogja - Di Jajah Belanda sampai ke Papuma)

Hal terpenting dari sebuah perjalanan adalah dapat kembali ke rumah dengan keadaan baik. Kamis 28 Juli 2016, genap sudah 6 hari saya di Jogja dan harus segera kembali ke Jember. Jam masih menunjukkan waktu 08.00 WIB saya sudah ada di stasiun. Setelah check in untuk bisa masuk ke dalam stasiun, saya memilih duduk di kursi tunggu sendirian kemudian membuang waktu dengan bermain handphone. 
Stasiun Lempuyangan
Beberapa saat kemudian kereta datang, berbondong bonding bersama penumpang lain saya segera mencari gerbong, menaikkan carier yang sangat amat berat, kemudian duduk dengan tenang. Sampai kemudian ada seorang bule tengah kebingungan mencari tempat duduk, setelah saya tanyai ternyata dia mendapatkan kursi di depan saya, namun di depan saya di tempati oleh ibu-ibu yang sepertinya tiketnya berpisah kursi dengan anaknya. Setelah saya beri pengertian, akhirnya ibu tersebut berpindah ke tempat aslinya yaitu di sebelah saya.
            Saya rasa bule tersebut merasa tidak nyaman karena kakinya tertekuk. Lantas dia mengajak bicara pada ibu sebelah saya untuk bertukar tempat duduk. Ibu tersebut yang kurang paham bahasa inggris hanya bisa tersenyum, dan saya mengambil alih menjadi penerjemah. Dan kini bule tersebut duduk disebelah saya. Saya diam, dia pun diam. 
dia bingung dengan kakinya yang terlalu panjang
Sekedar basa basi saya menanyakan tentang dirinya. Namanya Evert Jan Hamstra, berasal dari Belanda, penjajah Negara kita dahulu. Saya tak akan membahas sejarah disini. Dia menceritakan perjalanannya selama di Indonesia, dimana dia akan berlibur disini selama 2 bulan. Dia sudah mengunjungi Jakarta, Bogor,  Jepara, Karimunjawa, Semarang, Solo, Jogja, dan tujuan berikutnya adalah Bromo, Ijen, Bali, dan Lombok. Selama di perjalanan kami banyak bertukar cerita, bertukar pengalaman, dan bertukar nomor WhatsApp, hehe. Percaya atau tidak, saya tidak tertidur, dan tidak merasa lapar selama perjalanan, karena ya mungkin ada teman mengobrol.
            
Evert dan Saya
Sebelum Evert turun di stasiun Probolinggo, dia sempat bertanya dimana Kota saya tinggal. Dan berbekal Handbook Indonesia miliknya, saya berhasil menjelaskan dimana kota saya tinggal. Saya pun membekali dia berbagai tips dan nasihat untuk dia menjaga diri selama di Indonesia. Karena ya tau sendiri, rawan sekali bule di tipu di Negara kita ini.

            Surprise !
            Lewat sehari sejak pertemuan saya dengan Evert, Jumat 29 Juli 2016 malam hari dia mengirim pesan melalui WA bertuliskan “Surprise” dengan map lokasi dia berada. Saya terlonjak ketika melihat map yang dia kirim menunjukkan bahwa posisi nya ada di Jember. Saya sedikit terharu, dan lucu dengan keadaan ini.

            Papuma
            Evert menyukai pantai, dan saya mengajaknya untuk menikmati Pantai Papuma. Saya merasa kasihan dengan kakinya yang terlalu panjang, sehingga dia merasa terlalu lelah dengan perjalanan menuju papuma menggunakan sepeda motor. Dia banyak bertanya tentang apa saja yang ditemuinya di jalan, sampai saya kehabisn kata bingung untuk menjelaskan jawabannya. Dia terkagum kagum melihat Papuma yang menurutnya sangat indah.

Nungguin Si Bocah Renang
Dalam hati saya merutuk “Lihat Papuma aja udah gini, apalagi sampai di Bali”. Saya menunggu di tepi pantai ketika dia memutuskan untuk berenang. Ingin sekali rasanya tertawa melihat dia berenang dengan begitu bahagia. Puas berenang, kami berjalan menuju atas bukit. Melihat pemandangan dari atas bukit kembali membuatnya berdecak kagum. Sepertinya dia lelaki yang bertanggung jawab dan menjaga wanita, dengan alasan jalan turun dari bukit adalah jalan terjal, maka dia menggandeng tangan saya. Rasanya seperti Ayah yang menggandeng anak perempuannya. Berikutnya kami hanya menghabiskan waktu duduk di tepi pantai sambil banyak bercerita.
di atas bukit yang tinggi, dan dia juga tinggi

            Good Bye !
            Kami menuju stasiun untuk membeli tiket kereta menuju Banyuwangi, karena tujuan Evert dari Bromo adalah menuju Ijen, bukannya malah mampir di Jember. Selesai membeli tiket, kami kembali bercengkerama di warung kopi dekat stasiun. Dia memesan mie instant goreng yang menurutnya sangat lezat. Di tengah lahapnya dia memakan mie, dia berucap “Aku rasa hari ini berlalu sangat cepat karena sebentar lagi aku harus melanjutkan perjalananku. Tetapi jangan khawatir, aku merasa bahagia bisa bertemu dan berjalan denganmu seharian ini”. Aku hanya mengangguk-angguk sambil tetap focus pada pisang cokelat pesananku. 

Semoga di pertemuan selanjutnya, tinggi kita bisa sama haha
Jam menunjukkan 15.15 WIB. 15 menit lagi kereta yang ditumpangi Evert akan segera berangkat. Saya mengantarkannya sampai di depan tempat Check In. Dia berbalik badan menghadap saya, kemudian melebarkan tangannya, saya memeluknya sebagai tanda perpisahan sesuai dengan adatnya. Dan saya mulai sadar bahwa saya sedang berada di Stasiun Jember di Indonesia, dan saya baru sadar bahwa banyak pasang mata yang memperhatikan. “See you later”, saya berucap sambil melambaikan tangan. Evert memberikan tiket dan KTP nya pada petugas tiket, dan perlahan punggungnya hilang. Saya berbalik, dan sedikit berlinang.

*Tiket masuk ke Papuma untuk WNI adalah Rp.17.500, dan untuk WNA adalah Rp. 35.000. 

Mahasiswi Akhir yang Akhirnya Berlibur (Jogja Part II)

            Pura Pakualaman Jogja
            Saya mengunjungi Pura Pakualaman Jogja pada hari Minggu, dan ternyata kunjungan saya adalah sebuah kesalahan karena Museum yang ada di Pakualaman tutup di setiap hari Minggu. 







Gapura Pura Pakualaman
Akhirnya saya memberanikan untuk meminta ijin untuk sekedar berfoto beberapa tempat disana. Hanya beberapa menit saya disana sampai akhirnya memutuskan pulang dan mampir untuk membeli batagor di daerah Kaliurang.

            Taman Pelangi Monjali
            Saya dan Mbak Yo memutuskan untuk menghabiskan malam di Taman Pelangi. Taman Pelangi terletak di halaman Monjali (Monumen Jogja Kembali). Karena weekend, tiket masuknya di hargai Rp. 20.000. 
Taman Pelangi
Setelah parkir, saya bergegas mengitari lampion-lampion yang sudah terpajang disana. Menurut saya, Taman Pelangi isinya hampir sama dengan Taman Lampion di BNS. 
Ikan Ikan Gendut
Monjali

Aneka kerangka makhluk hidup di bentuk menggunakan kain dan didalamnya berisi lampu. Puas mengitari Taman Pelangi, saya masih mampir membeli makan ikan. Sebelum saya memberi makan ikan di kolam Monjali yang sangat luas itu, saya sempatkan sejenak berfoto di depan Monumen. Kami mengakhiri malam dengan makan mie dok dok di warung burjo daerah Condong Catur.

            Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko
            Pernah mendengar mitos bahwa jika ke Candi Prambanan bersama pasangan, maka akan terkena kutukan yaitu sepulang dari sana akan putus. Saya antara percaya dan tidak, karena saya mengalaminya saat kelas 2 SMA. Study tour bersama teman-teman sekolah, dan sepulang dari sana hubungan saya dengan mantan pacar pun berakhir. Tak hanya saya, sepupu saya yang satu sekolah dengan saya juga mengalami hal yang sama setelah study tour. Entah mitos atau bukan, yang pasti Senin pagi itu saya bersama Mbak Yo sudah siap menuju Candi Prambanan. Kami membeli tiket terusan yang berisi paketan tour menuju Istana Ratu Boko dan Candi Prambanan seharga Rp.50.000.
Gapura Istana Ratu Boko
            Mini bus yang akan membawa kami menuju Istana Ratu Boko sudah tiba, dan kami melakukan perjalanan sekitar 10 menit untuk sampai di pelataran parkiran Istana Ratu Boko. Selanjutnya kami harus berjalan kaki menaiki banyak tangga untuk sampai di komplek Istana. Kami disambut dengan gerbang Istana yang begitu kokoh namun hanya seperti reruntuhan. Kemudian kami melakukan perjalanan mengunjungi tiap-tiap tempat yang dimiliki oleh Ratu Boko pada jamannya. Terik matahari mulai terasa membakar kulit, sepertinya saya sudah kelelahan mengitari Istana ini. Saya jadi berpikir, Ratu Boko pasti orang yang kaya raya, karena rumahnya besar sekali. Tidak bisa membayangkan betapa bagus Istananya saat dulu. Saya juga berpikir bagaimana bersih-bersih rumah jika rumahnya besar sekali.
Tempat Mandi Putri
            Setelah dari komplek Istana Ratu Boko, saya menuju kembali ke komplek Candi Prambanan. Saya memperhatikan bentuk Candi yang sangat bagus ini. Saya tak pernah berpikir absurd sebelum ini, sampai akhirnya detik itu saya mempertanyakan bagaimana bisa batu-batu tersebut melekat satu sama lain, dan bentuknya tak hanya kotak, melainkan ada yang setengah bulat dan bentuknya sama persis satu dengan lainnya. Subhanallah sekali, saya tak mampu berpikir menggunakan logika.
Candi Prambanan dan Segala Mitosnya

Terimakasih Phytagoras
            Untuk menuju pintu keluar dari Candi Prambanan kami harus berjalan memutar jauh sekali. Lalu tercetus obrolan nggak penting antara saya dan Mbak Yo. Daripada memutar jauh, saya memilih melakukan perjalanan miring dari sudut menuju sudut, layaknya teorema Pyitagoras. Jadi saran saya saat anda melakukan perjalanan ke Candi Prambanan, jangan lupakan Phytagoras agar tak kehabisan napas di tengah jalan.

            Kota Gede Jogja
            Kota Gede adalah tempat yang paling saya sukai di bandingkan semua tempat yang saya kunjungi disini. Bangunan disini seperti membawa kita ke masa lampau. Saya banyak menghabiskan waktu untuk berfoto di pinggir-pinggir jalan, dimana walau hanya di depan rumah orang, rumah tersebut memiliki desain yang sempurna bagi saya. Di kota gede saya sempatkan untuk membeli oleh-oleh di cokelat monggo. 
Cokelat Monggo
Favorit saya adalah dark chocolate, rasanya enak karena tidak terlalu manis dan ada pahit-pahitnya. Tak hanya membeli cokelat, saya mampir ke pasar untuk membeli jajanan tradisional. Nama jajanannya adalah Jeddah Tempe, isinya seperti Tetel, dan cara makannya seperti Burger.

Di depan rumah orang - Kota Gede
Di samping dapur rumah orang - Kota Gede
 Kita letakkan tempe bacem di antara 2 tetel, kemudian dimakan bersamaan. Wah rasanya, nyonyoiii enak sekali. Saya juga menyempatkan untuk berfoto didepan Rumah Pesik. Rumah besar yang sangat amat besar sekali dengan desain unik dan mencolok, namun sudah tak berpenghuni.
Rumah Pesik Kota Gede


            
Desa Wisata Kasongan
            Hari keempat saya di Jogja, saya sempatkan mengunjungi Desa Wisata Kasongan. Desa ini letaknya di Bantul Jogjakarta. Kalau anda berminat untuk mencari oleh-oleh yang bagus, unik, dan murah, tempat ini saya rekomendasikan. Di desa ini banyak kerajinan gerabah dengan harga murah. Saya mengingat Mak Ri dirumah, akhirnya saya membelikan 2 Cobek dari gerabah, dan 1 Mangkok dari gerabah. 

Celengan Ayam dan Celengen Kendi
Selain itu saya membelikan celengan kendi untuk teman-teman saya di Jember agar mereka jadi rajin menabung. Harga dari kerajinan ini cukup murah hanya sekitar Rp. 3.000 – Rp.5.000 untuk celengan dan cobek. Sedangkan 1 paket kendi dan cangkir hanya di beri harga Rp. 30.000.

            Panggung Krapyak                                             
            Saya selalu penasaran dengan Panggung Krapyak, sampai akhirnya saya bisa berfoto di depannya. Jika di tarik lurus maka akan terbentuk sebuah garis yang menghubungkan Panggung Krapyak, Keraton, Tugu, sampai ke Gunung Merapi. Filosofinya adalah garis tersebut menggambarkan perjalanan manusia. 

Panggung Krapyak
Panggung Krapyak ke Kraton menggambarkan manusia sejak lahi sampai dewasa. Dari Keraton ke Tugu menggambarkan proses manusia menjalani hidup sampai bertemu dengan penciptanya.

            Bale Raos
            Berakhir sudah perjalanan saya dengan Mbak Yo. Sebagai traveler yang nomaden, saya pun berpindah menjadi buntut keluarga saya. Keluarga saya tiba dari Malang dan Jakarta. Selasa malam kami mencoba untuk makan di Bale Raos. Siapa yang tidak tau Bale Raos, tempat makan di Kraton yang menjual masakan-masakan favorit yang biasa di makan oleh Sultan. Saya memesan satu porsi bebek siram saus jamur. Mungkin karena saya bukan darah biru, saya kurang menyukai rasa yang dihidangkan.
Bale Raos


            Tempo Gelato
            Hari Rabu adalah hari terakhir saya bisa berjalan-jalan sebelum esoknya harus kembali ke Jember. Saya, kakak ipar saya, dan 2 teman kakak ipar saya memutuskan untuk jalan-jalan dan nongkrong tipis-tipis. 
Trio Gendut dan Es Krim Gendut
Kami mengunjungi Tempo Gelato di daerah Prawirotaman, saya memesan Ice Cream dengan rasa Jambu dan Greentea. Namun nasib na’as tak bisa dihindari, saat berjalan keluar menuju parkiran Es Krim saya jatuh separuh ke jalan raya.

            Malioboro
            Ke Jogja kalau tidak mampir ke Malioboro seperti kurang Sah. Sebagai perempuan yang suka lapar mata, saya dan kakak ipar saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbelanja oleh-oleh di sepanjang jalan Malioboro. Walau sebelumnya saya sudah berpesan bahwa biar saya yang menawar, dan kakak ipar saya tidak boleh bersuara karena bisa ketahuan bahwa dia orang luar Jawa. Karena katanya sih kalo pengen dapet harga murah pas berbelanja di Malioboro harus bisa menawar menggunakan bahasa jawa. Cuma saran aja untuk yang nggak bisa menawar mending belanja di dalem toko jadi harga pas. Selalu hati-hati sama tas, dompet dan handphone waktu berbelanja di keramaian ya.


-bersambung

Senin, 03 Oktober 2016

Mahasiswi Akhir yang Akhirnya Berlibur (Jogja Part I)

            Jogja, kota yang menjadi kunjungan favorit sejak dulu. Tak hanya wisatawan dalam negeri, wisatawan asing pun berlomba untuk datang menikmati Jogja. Saya sebagai mahasiswi tingkat akhir yang selalu depresi menghadapi skripsi mendadak langsung Say Yes saat di tawari kakak saya untuk hadir di wisudanya. Acara wisuda digelar hari Rabu tanggal 27 Juli 2016, namun saya sudah berangkat dari kota Suwar Suwir sejak hari Sabtu tanggal 23 Juli 2016. Berbagai tempat wisata sudah masuk dalam list catatan perjalanan, saya ingin berlibur dulu.
saya dengan gaya alay di kereta saat subuh
            Subuh itu, bersamaan dengan para pedagang siap berangkat berjualan, saya sudah berada di stasiun Jember. Dingin sekali pagi itu. Di dalam kereta belum begitu ramai, baru berjalan berapa menit saya sudah mulai di landa kebosanan di dalam kereta. Sekedar bermain smartphone dan mendengarkan lagu. Menyesal rasanya tidak membawa bekal beberapa buku bacaan. Akhirnya sepanjang perjalanan Jember menuju Jogjakarta saya habiskan untuk memperhatikan orang-orang disekeliling saya. Sepasang kakek nenek yang membawa cucunya untuk berlibur ke Solo, seorang ayah yang membawakan sepeda motor untuk anaknya yang kuliah di luar kota, seorang ibu yang akan pergi menengok cucuknya, mas-mas yang mirip artis didepan saya yang sempat video call dengan pacarnya, dan mas-mas ganteng di sebelah pasangan kakek nenek yang berbicara sopan dan nikmat sekali wajahnya di pandang. Perjalanan selalu memberikan banyak pengalaman dan pelajaran.
mas kayak artis
mas mas ganteng di sebelah nenek

            Hati saya berdebar saat tau sudah sampai di Stasiun Lempuyangan. Saya akan di jemput oleh Teman Kakak saya, Mbak Yo namanya. Karena tau akan menggembel beberapa hari,saya harus melakukan banyak persiapan dan perencanaan yang matang untuk bisa bertahan hidup. Minimal mendapatkan tumpangan tidur agar tidak tidur di masjid ataupun pom bensin. Sore itu Jogja di guyur hujan deras. Lama menunggu, saat sedikit reda, saya dan Mbak Yo siap menerobos gerimis.

Angkringan dan Kopi Joss
            Ke Jogja tidak akan sah kalau belum nongkrong di angkringan. Sabtu malam saya mencoba menghafal jalan-jalan penting di Jogja, dan berakhir di salah satu angkringan di sekitar Malioboro. Saya selalu penasaran dengan kopi Joss, beberapa kali pernah ke Jogja namun tak pernah kesampaian meminum kopi Joss. Kopi hitam yang bercampur dengan arang panas terasa nikmat sekali malam itu. Dominan rasa pahit dengan sedikit manis adalah kopi favorit saya. Bagi pecandu kopi, segelas kopi selayaknya kehangatan, yang selalu bisa memberikan rasa tenang.

            Sunday Morning UGM
            Saya berencana menghabiskan hari minggu dengan berjalan jalan ke kampus UGM. Sunday Morning, layaknya Car Free Day setiap minggu di kota Jember. Banyak pedagang mulai menata dan menjajakan barang atau makanan yang di bawa. Saya tertarik melihat slogan “Bakso Pedas Bikin Cerdas”, akhirnya dengan uang Rp.10.000 saya membeli bakso tanpa kuah yang sudah dibumbu dengan pedas, rasanya enaaaaaaak sekali. 
suasana yang sama seperti car free day di Jember
Saya juga membeli telur puter-puter (di Jember namanya begitu), namun rasa dan kualitasnya jauh sekali lebih enak yang di jajakan di alun-alun Jember. Ah yasudah, namanya juga mencoba tak ada salahnya.

            Benteng Vredeburg
            Hari Pertama di Jogja saya memutuskan berjalan-jalan sendirian, karena Mbak Yo sibuk dan tidak bisa menemani. Malam sebelumnya saya memahami peta Jogja yang saya ambil gratisan di Mirota Batik Malioboro. Dalam list perjalanan, saya menulis Benteng Vredeburg, letaknya dekat dengan titik 0 km. Biaya parkirnya Rp.2000 dan biaya masuknya Rp.2000. 
di fotokan pak penjaga parkir
Tutup di hari Senin, untung saja saya kesana hari Minggu. Benteng yang di bangun pada tahun 1765 ini berdiri begitu kokohnya. Di dalam benteng ini terdapat 4 diorama. Sayangnya saya hanya masuk ke dalam 2 dari 4 diorama. Alasannya karena saya sendirian, dan ketika masuk ke dalam salah satu diorama, tidak ada 1 orang pun di dalamnya, dan bulu kuduk saya berdesir, sehingga saya memutuskan balik badan dan menuju diorama lainnya. Mungkin lain kali saya akan kembali kesana lagi.
ibu fatmawati lagi menjahit

            Museum Anak Kolong Tangga
            Museum ini sesuai namanya, ada di bawah kolong tangga lantai 2 di lingkup Taman Budaya Jogjakarta. Letaknya tak jauh dari Benteng Vredeburg.  Pemiliknya adalah seorang WNA dari Belgia bernama Rudi Corens. Tiket masuknya hanya Rp. 5000 untuk orang dewasa, dan jika ingin memotret harus membayar lagi berapa ya saya lupa. 
cuma sempat ambil foto di depan museum aja
Di museum ini pun hanya saya seorang pengunjungnya. Ah sedih rasanya tak bisa menikmati sepenuh hati karena dirundung rasa was-was dan cemas. Museum ini berisikan mainan-mainan jaman dulu dan cerita anak-anak dari berbagai negara. Melihat mainan yang dipajang membuat saya sedikit mengingat masa kecil sebagai anak generasi tahun 90.an. Jajanan masa kecil pun ikut di pajang. Serta beberapa boneka yang menurut saya agak seram penampakannya.
            Setelah puas melihat isi dari museum ini, saya sudah di sambut dengan Pasar Kangen di halaman Taman Budaya. Seperti layaknya pasar, banyak stand-stand berdiri yang menjual berbagai makanan dan minuman tradisional. 
pasar kangen, kangen kamu, kamu kangen aku nggak (?)
Kebetulan sekali saya mengunjungi Jogja saat Pasar Kangen di gelar. Hanya saja, saya tak sempat membeli apapun, karena di buru oleh waktu untuk menuju list perjalanan yang sudah saya rencanakan berikutnya.


            -bersambung.

Jumat, 13 Februari 2015

Cerita yang Tak Pernah Berakhir Part IV (Selamat Mengulang Hari Lahir, Hans)

Selamat hari lahir yang ke dua puluh satu Hans. Ini sudah ke 4 kalinya saya turut bahagia merayakan hari kelahiranmu. Saya gundah sejak sebulan lalu Hans. Ditelinga saya terus terngiang tanggal lahirmu. Saya galau harus memberi apa dihari lahirmu. Sebulan saya berpikir, bagaimana cara saya memberi tau kamu bahwa saya ingat dan saya tahu dan saya selalu hafal hari lahirmu. Saya bingung Hans,saya harus menyampaikan doa pada kamu melalui apa. Saya masih menyimpan nomor telepon kamu 4 tahun silam, kadang saya masih mengirim pesan singkat pada nomor itu jika rindu sedang tak tertahan walau saya tau nomor tersebut telah lama mati. Saya punya kontak BBM kamu, kamu juga tau itu. Tapi saya tak berani memulai mengetik untuk berucap “Selamat Ulang Tahun, Hans”. Saya berniat mengucap itu tadi malam saat dini hari. Tetapi saya urungkan, saya sadar diri Hans, ada yang jauh lebih pantas mengucapkan itu dibandingkan saya.

                Saya bangun pagi tadi dengan perasaan kacau. Melihat Recent Update di BBM semakin kacau, terlihat pada pukul 00 ntah lebih berapa  saya lupa, Bunga mengucapkan kebahagiaan akan hari lahirmu. Saya tak berani seperti itu. Andai saja saya bisa Hans.

                Hari ini otak saya sedang terus memutar tanggal 8 bulan ini di tahun-tahun sebelumnya Hans.

                Tahun 2012. Saya sudah mempersiapkan kado untuk kamu. Sebuah pigura dengan kumpulan foto-foto yang di tata berbentuk seorang berambut gimbal dengan baju merah kuning hijau dan sebuah alquran kecil yang sengaja saya beli sepasang, dan satunya saya simpan. Kado itu tak saya berikan tepat di hari lahirmu. Lagi-lagi saya takut dan merasa tidak enak dengan Bunga. Tapi tetap saja saya berikan saat saya akan pindah ke kota Jember.

                Tahun 2013. Saya meneleponmu jam 00.00. Dengan nada mengantuk saya bertanya “Ini Hans?” Dan kamu menjawab sambil tertawa “Bukan haha”. Dengan singkat saya berucap “Selamat Ulang Tahun Hans. Semoga semua keinginanmu tercapai.Hari ini saya tidak bisa bertemu denganmu. Maaf ya.”. Telepon saya matikan dan saat saya bangun tidur, saya mendapati pesan singkat darimu “Saya sudah menyangka kamu pasti orang yang pertama mengucapkan. Terimakasih doanya”. Nyatanya apa Hans?Pagi itu saya sedang menapaki puluhan kilometer aspal untuk sampai di kotamu. Memberikan sebuah bingkisan ulang tahun buatan tangan yang katamu adalah kado yang paling spesial di antara semua kado yang kamu terima.

                Tahun 2014. Saya ingat kamu berulang tahun Hans. Tapi saya tak memberi apa-apa. Saya takut untuk terus terhantui merindukan, dan memikirkan keberadaanmu.

                Tahunini Hans. 2015. Saya tak bisa memberi kejutan apapun. Karena saya kalah sejak awal. Sekedar berucap melewati pesan singkat pun saya tak berani. 

Detik ini saya mencoba mengumpulkan keberanian itu. Saya ingin turut berbahagia atas hari kelahiranmu. Sebagai rasa syukur pada Tuhan telah menakdirkanmu terlahir ke dunia. Tak apa saya tak bisa mengucapkan doa padamu untuk yang pertama. Namun biarkan saya mencoba memberi doa padamu nanti, di akhir malam tanggal 8 bulan ini. Sambil berdoa dalam hati, bahwa nanti saya yang akan menjadi wanita terakhir untukmu.

                Selamat ulang tahun Hans.
                Lelaki yang selalu di hati, tapi tak pernah bisa termiliki.
                Selamat ulang tahun Hans.
                Semoga harimu bewarna, bersama, Bunga.

Cerita yang Tak Pernah Berakhir Part III (Patah Hati yang Terhebat)

Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu

Sore ini saya sedang patah hati dengan level yang sangat akut. Begitu dahsyatnya patah hati ini. Semua berawal dari saat saya membuka flasdisk, membuka folder rahasia dalam flasdisk. Dan mata menjadi berkaca-kaca saat saya tidak mendapati Folder yang berisi foto saya dengan Hans. Ini seperti mimpi rasanya. Saya keluarkan flasdisk,menancapkan lagi sampai 3 kali tapi tetap sama. Folder itu hilang. Saya histeris, dan hanya bisa menangis sepanjang hari.

                Saya merasa patah hati yang hebat. Kehilangan folder itu merupakan tikaman tajam,membuat separuh jiwa saya hilang. Bagaimana tidak jika dalam folder itu terpampang foto saya dan Hans. Kami mengambil foto itu saat Hans menepati janji untuk menemui saya di Kota Jember taun 2012 silam. Di foto itu kami memakai baju dengan warna yang sama yaitu hitam, seperti biasa tanpa janjian. Itu kali pertama saya berpose bersama dengan Hans, sampai saat ini tidak pertama, dan folder itu raib tanpa saya tau hilang kemana.

                Sakit rasanya , sama sakitnya seperti saat dulu saya dan Hans memutuskan bertemu sayadi suatu sore beberapa taun silam saat masih SMA. Di tengah obrolan panjang ditengah sepoi angin, Hans berkata “Saya balik lagi dengan Bunga”. Sepoi angin menjadi rintik hujan di hati saya. Saya berusaha menahan air mata. Mood saya drop, dan saya memutuskan bersikap sewajarnya dan memilih mengakhiri sore itu dengan cepat.

                Sampai dirumah, saya menuju kamar memandang langit-langit kamar dengan perasaan kacau.Melihat di belakang pintu terpampang kaos dan boxer yang saya pakai saat tak sengaja bertemu Hans pertama kali (baca cerita sebelumnya). Dengan berlinang air mata, perasaan gundah tak menentu, saya mengambil baju tersebut melemparkan ke dalam bak cucian. Biarlah, biar kenangan pertemuan pertama itu larut dalam air sabun terbuang kemana ntah saya berusaha tak peduli.

                Saya mengirim pesan singkat pada Hans, “Semoga pilihanmu kembali dengan Bunga adalah pilihan yang terbaik. Jika suatu hari nanti kamu sendiri, tidak tau kemana,kamu bisa cari saya, saya selalu ada untuk kamu, saya menunggumu Hans”. Dengan cepat Hans membalas “Maaf, maaf saya telah menyia-nyiakan wanita yang benar-benar tulus sama saya. Saya mengaku saya bodoh”.

                Saya tak pernah lupa dengan janji saya Hans. Saya menunggu sampai sekarang. Sejak 2011 silam, sekarang sudah berjalan 2015, saya masih disini Hans. Saya selalu mengikutimu di belakang. Tapi, larimu begitu cepat Hans, saya merasa tak mampu untuk terus mengejar. Mereka berkali-kali menyuruh saya untuk berhenti mengikutimu Hans.  Saya mungkin pernah terjatuh saat berlari, tapi saya bangkit lagi dan terus berlari. Saya selalu menyemangati diri bahwa saya kuat, saya tidak apa-apa berlari di belakang kamu walau harus tertinggal  jauh. Saya tak apa Hans.Percaya itu.

                Hans,maukah kamu menoleh sebentar saja?.

Sepenuhnya aku...ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan...tuk mencintaimu
Setulusnya aku...akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu

Cerita yang Tak Pernah Berakhir Part II (Ini Bukan FTV, Hans)

Tuhan memberikan suatu takdir untuk di jalani.
Bukan untuk di sesali apalagi diratapi.

                Takdir apa yang membuat saya dan Hans menjadi duduk bersama di tengah gubuk kecil di hamparan sawah yang luas ini . Ini bukan perihal mimpi. Ini sekedar kebetulan saat sama-sama sendiri, kemudian jari-jari saya mengetik pesan untuk Hans. Dan waktu terasa membeku sampai akhirnya saya dan Hans sedang berdua sekarang menikmati tiupan angin yang mengobrak abrik lembut rambut Hans dan rambut saya.

                Sambil menghabiskan putung rokoknya, dia mulai bercerita tentang kegalauanya dengan Bunga. Dia putus dengan Bunga. Wanita yang ternyata menduakan 1 hatinya untuk 2 lelaki. Untuk Hans dan Rayyan si lelaki kaya raya yang sebelumnya menjadi kekasih Bunga. Hans mengetahui fakta pahit ini setelah dia mencari tau terlalu jauh seperti apa Bunga. Saya yang tau itu sejak dulu, hanya diam dan membungkam semuanya sendiri. Pura-pura tidak tau dan membiarkan Hans bercerita dengan nada sedikit emosi sambil menatap hamparan padi yang sedang menari termainkan angin.

                “Berhentiberbicara tentang Bunga. Kita cari bahasan lain saja ya.” Hans mematikanrokoknya dan berhenti menceritakan tentang Bunga. Dan pergantian topik Bungamenjadi cerita lucu membuat saya tau bahwa suara tawa Hans begitu renyah danunik. Tawa dengan potongan napas yang terdengar begitu indah menurut saya. Sayamemandang Hans yang sedang membetulkan rambutnya yang terkena angin. Begitudalam saya menatap, saya merasa Bunga terlalu bodoh menduakan Hans seperti itu.

                Matahari sore mulai turun meminta berganti dengan bulan, saya dan Hans memutuskan mengakhiri sore itu dan berjalan menyusuri pematang sawah. Saya di belakang Hans bepegangan erat baju Hans , takut karna sebelumnya ada seekor ular yang mengintai kita di bawah gubuk tadi. Dengan cepat Hans meraih tangan saya dan kami berjalan sambil menggenggam tangan. Ah, untung saja Hans berada di depan, saya malu bila Hans tau wajah saya memerah saat itu.

                “Kamu suka melihat FTV ? Kamu tau? Adegan berjalan di sawah sambil menggenggam tangan seperti ini sering dilakukan” Hans berucap seperti itu. Dan ya, gemuruh hati ini mulai berdendang minta di hentikan. Kaki  saya mulai dingin membeku, tetapi tangan saya tetap terasa hangat karna masih berada dalam genggaman Hans. Saya diam tak berkomentar dan berharap pematang sawah yang saya lalui ini bertambah panjang 5km .

                “Cepat pulang, nanti kamu hilang kalo sering ada di jalan. Terimakasih untuk sore ini.Kamu berhasil membuat saya lupa dengan Bunga“. Saya tersenyum mendengar kalimat Hans yang semakin membuat saya bergetar tak beraturan. Saya mengulurkan tangan tanda berpisah, Hans menerima tangan saya dan membalik tangannya dengan cepat sampai saya mencium punggung tangan Hans. Saya kaget, dan Hans hanya tertawa.Tawa riang dengan wajah yang mempesona.

                Saya tutup hari itu dengan menyetir sepeda perlahan, menikmati desiran darah penuh dengan asmara yang membuat saya tak sadar bahwa saat lampu merah saya tersenyum sendiri. Dan menjadi malu saat tau bahwa di samping saya telah ada Hans yang melihat saya dan berucap “Senyum senyum sendiri ya”. Dan lampu merah ternyata menyala sangat cepat. Saya melaju ke kiri berputar tak ingin pulang, dan Hans pergi ke kanan ntah kemana saya tak tau.

                Bunga,maaf jika saya benar-benar jatuh cinta pada Hans.

Cerita yang Tak Pernah Berakhir Part I (Bertemu Hans)

Seluruh kawan saya  tak ada yang tak mengenal Hans dan berbagai ceritanya. Saya selalu menceritakan tentang Hans, tentang saya dan Hans, dan tentang kenangan saya dan Hans. Hans. Nama yang cukup indah untuk menyamarkannya. Dia adalah seorang pencuri. Pencuri hati yang tak pernah bisa mengembalikan hati saya secara utuh sejak saya masih berseragam putih abu-abu.Hans bersuara sangat khas, sedikit serak, dengan senyum manis menggoda yang mampu meruntuhkan iman saya. Hans menjadi pribadi yang selalu saya ingat. Entah dimanapun saya berada, sosok Hans seperti terus mengikuti saya. Pernah saya mencoba mengusir Hans, namun tak sampai beberapa lama bayangan dia kembali datang.

                Saya berkomunikasi dengan Hans jauh sebelum saya bertemu dengan Hans. Hans pernah berkomunikasi dengan saya, untuk menanyakan tentang Bunga melalui pesan singkat. Bunga adalah seorang wanita yang cukup dekat dengan saya, dia seorang Bunga yang sempurna karna parasnya yang benar-benar cantik seperti permaisuri(mungkin). Saya tak pernah tau kenapa Hans menanyakan tentang Bunga pada saya,tapi saya orang cuek dan saya jawab saja yang saya ketahui, karna pada saat ituHans mengaku sebagai pacar Bunga. Tak hanya sampai disitu, Hans juga pernah menelepon saya untuk menanyakan tentang Bunga, dan ya saya lagi-lagi tak mengerti, ini pacar siapa yang di Tanya siapa. Tapi siapa peduli, saya jawab seadanya saja.

                Hingga suatu hari, sore yang begitu cerah saya menghabiskan waktu dengan menikmati suasana  kota, memilih duduk di sebuah pos yang berada tepat di sebelah sawah hijau yang membentang. Saya baru ini menemukan ada hamparan sawah di tengah-tengah kota. Sedikit ajaib namun menguntungkan untuk saya sedikit melepas penat menghadapi Ujian Semester 5 di SMA. Angin sepoi-sepoi menambah suasana menjadi sedikit lebih nyaman, di tambah saat saya melihat seorang laki-laki melewati tempat saya duduk. Rambutnya tertepa angin, dan saya terdiam beberapa detik, melihatnya tanpa berkedip dan ekor mata saya terus mengikuti kemana dia pergi. Di ujung jalan pun saya melihat kelabat bayangan terakhirnya termakan oleh enggokan jalan.

                Saya ingin membagi apa yang saya lihat baru saja pada seorang teman bernama Bunga.Dengan mengirimkan pesan singkat pada Bunga yang berisi bahwa saya telah melihat seorang laki-laki yang sepertinya menurunkan beberapa persen ketampanan dari Nabi Yusuf. Tak sampai beberapa menit, Bunga pun datang dan dengan penuh antusias saya menceritakan semuanya pada Bunga. Di pertengahan cerita pun lelaki tadi kembali melintasi jalur dimana saya duduk. Dan dengan perasaan sumringah saya berkata pada Bunga “Itu dia orang yang ku ceritakan”. Bunga hanya melihat dan tersenyum, manis, sungguh manis, dia benar-benar seperti Bunga.

                Beberapa menit kemudian, lelaki itu berjalan lagi kearah kami. Menuju pos yang sedang saya dan Bunga tempati. Saya sedang mengalami peningkatan detak jantung, hampir pucat, dan sulit bernapas sama seperti ikan yang di lepaskan dari air menuju darat. Ternyata dia menghampiri Bunga, bercakap-cakap, dan saya diam sedikit menjauh dan penasaran kenapa Bunga bisa mengenalnya. Bunga memanggil saya untukmengenalkan saya pada dia, tapi saya menolak halus, tersenyum sebentar, dan berpaling menatap hamparan sawah (lagi).

                Usai menghabiskan sore di pinggir sawah tengah kota, saya mengantar Bunga pergi kesalon. Bunga dengan parasnya yang cantik pasti memerlukan perawatan untukmenjaga kualitas diri. Berbeda dengan saya yang terbiasa untuk bersikap apa adanya meski terkesan kumuh. Bunga menitipkan handphone nya pada saya. Entah maksudnya apa, tapi saat saya melihat wallpaper dari handphonenya, saya melihat foto Bunga bergenggaman tangan dengan seorang laki-laki. Iya, dengan laki-laki yang tadi sore saya temui.

                Seperti terjatuh dalam kubangan kotoran sapi yang bertumpuk. Mungkin lembut dengan sedikit crunchy, tapi kotoran sapi tetaplah bau. Seperti itu yang saya rasakan saat mengetahui fakta yang sedikit buruk. Sepanjang menunggu Bunga di salon saya hanya bisa terdiam, menatap jalanan di luar, memegang hati saya seolah berucap “Hina,sungguh hina”.

                Perjalanan pulang saya menyampaikan pernyataan pada Bunga “Maaf bunga, yang tadi sorehanya bercanda, saya tidak benar-benar suka pada lelaki tadi. Saya tidak tau kalau dia ternyata pacarmu” dan dilanjutkan dalam hati “Jadi itu adalah Hans,orang yang jauh saya kenal sebelum saya bertemu tadi sore”. Saya akhiri sore itu dengan menggantungkan pakaian yang saya pakai di balik pintu, tidak mencucinya, karna pakaian itu sangat berarti menurut saya. Pakaian yang saya gunakan untuk menjadi saksi saat saya menjalankan takdir bertemu dengan Hans, pertama kali.

Tak pernah ada kebetulan di dunia ini.

Yang ada adalah takdir yang sudah tergariskan.